
Di setiap sudut perkampungan, saat matahari mulai naik atau menjelang sore, masjid-masjid tidak hanya ramai oleh jamaah laki-laki. Di sana, terdengar lantunan ayat suci dan tawa renyah dari jamaah istimewa: ibu-ibu pengajian. Lebih dari sekadar rutinitas mingguan, pengajian khusus ibu-ibu adalah pilar penting yang menopang ketahanan spiritual keluarga dan sosial masyarakat.
Kegiatan ini menjadi wadah utama bagi para ibu untuk memperdalam ilmu agama. Dimulai dari belajar membaca Al-Qur’an dengan tajwid yang benar, memahami fiqih kewanitaan (seperti tata cara shalat dan haid), hingga kajian tentang parenting Islami, semua dibahas dengan hangat. Mereka tidak hanya belajar, tetapi juga mengamalkan ilmunya di rumah, mendidik putra-putrinya menjadi generasi yang saleh dan saleha. Pahala jariyah dari anak yang shalat karena didikan ibunya terus mengalir, bahkan ketika sang ibu telah tiada.
Rutinitas domestik seringkali melelahkan. Pengajian menjadi “me time” yang berkah. Di majelis ini, mereka bisa mencurahkan unek-unek, berbagi cerita tentang anak, suami, atau masalah rumah tangga, dan mendapatkan solusi dari sudut pandang agama serta dukungan moral dari teman sejawat. Suasana ini menjadi terapi jiwa yang menenangkan hati dan menjernihkan pikiran, menyegarkan kembali energi setelah lelah mengurus rumah tangga.
Pengajian adalah simpul pengikat ukhuwah. Ibu-ibu yang awalnya hanya saling sapa, menjadi akrab dan saling peduli. Jika ada anggota yang sakit atau tertimpa musibah, solidaritas langsung mengalir, baik berupa bantuan moril maupun materi. Kebersamaan ini menciptakan lingkungan yang harmonis, di mana satu sama lain merasa memiliki dan dimiliki. Anak-anak pun tumbuh dalam lingkungan yang terbiasa dengan nilai-nilai kebersamaan dan tolong-menolong.
| Luas Area | 300 m2 |
| Luas Bangunan | 120 m2 |
| Status Lokasi | Wakaf |
| Tahun Berdiri | 1990 |