Rabu, 25 Februari 2026

Agenda :: 15 Maret 2026

Kerja Bakti Menjelang Idul Fitri

Pentingnya Kerja Bakti Rutin bagi Masyarakat

Di tengah kesibukan dan gaya hidup modern yang cenderung individualistis, tradisi kerja bakti hadir sebagai oase kebersamaan yang tak ternilai harganya. Jauh dari sekadar kegiatan membersihkan lingkungan, kerja bakti rutin adalah fondasi kokoh yang menopang terciptanya masyarakat yang sehat, harmonis, dan berdaya. Kegiatan yang sudah mengakar dalam budaya Indonesia ini menyimpan segudang manfaat esensial, baik bagi setiap individu maupun bagi kehidupan bermasyarakat secara luas. Lantas, mengapa kerja bakti rutin begitu penting?

1. Menjaga Kesehatan dan Kelestarian Lingkungan

Alasan paling utama dan nyata dari kerja bakti adalah terpeliharanya kebersihan lingkungan. Dengan kegiatan rutin seperti membersihkan selokan dari sampah dan endapan lumpur, aliran air menjadi lancar dan tidak tergenang. Hal ini sangat krusial untuk mencegah berkembang biaknya nyamuk penyebab demam berdarah atau malaria . Selain itu, membersihkan sampah di jalan, memotong rumput liar, dan merapikan taman tidak hanya membuat lingkungan asri dipandang, tetapi juga mengurangi polusi dan sumber penyakit . Lingkungan yang bersih dan sehat secara langsung meningkatkan kualitas hidup warganya, menjauhkan mereka dari berbagai ancaman penyakit berbasis lingkungan .

2. Mempererat Tali Silaturahmi dan Rasa Kebersamaan

Kerja bakti adalah wadah interaksi sosial yang paling efektif. Saat warga berkumpul, bergotong royong membersihkan jalan atau memperbaiki fasilitas umum, terjalin komunikasi dan kerja sama yang alami . Momen ini menjadi ajang mempererat tali silaturahmi yang mungkin renggang karena kesibukan masing-masing . Seperti yang diungkapkan oleh seorang warga Desa Kuripan Kidul, kerja bakti bukan hanya soal bersih-bersih, tetapi juga ajang untuk mempererat silaturahmi . Rasa kebersamaan yang terbangun membuat masyarakat menjadi lebih solid, saling peduli, dan konflik sosial pun dapat diminimalisir .

3. Menumbuhkan Rasa Kepemilikan dan Tanggung Jawab

Ketika seseorang turun tangan langsung merawat lingkungannya, ia akan menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) yang kuat terhadap tempat tinggalnya. Warga tidak lagi merasa sebagai penonton, melainkan sebagai pemilik yang bertanggung jawab atas kebersihan dan keindahan desa atau kelurahan mereka . Dampaknya, mereka akan lebih peduli, misalnya dengan tidak membuang sampah sembarangan karena merasa “sungkan” jika lingkungan yang sudah bersih menjadi kotor lagi . Sikap ini jauh lebih efektif daripada sekadar aturan atau larangan tertulis.

4. Meningkatkan Efisiensi dan Penghematan

Dari sisi praktis, kerja bakti rutin juga membawa manfaat ekonomi. Dengan bergotong royong, masyarakat dapat menghemat biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk membayar tenaga kerja dalam membersihkan lingkungan atau memperbaiki fasilitas umum yang rusak ringan . Pekerjaan seperti membersihkan saluran air besar atau memperbaiki jalan setapak menjadi lebih ringan karena dikerjakan bersama-sama dan tidak memerlukan anggaran desa yang besar . Ini adalah bentuk efisiensi sumber daya yang luar biasa.

5. Melestarikan Budaya Gotong Royong

Terakhir dan tak kalah penting, kerja bakti rutin adalah upaya nyata dalam melestarikan budaya gotong royong, warisan leluhur yang menjadi identitas bangsa Indonesia . Di era globalisasi ini, nilai-nilai luhur tersebut berisiko tergerus. Dengan membiasakan diri dan mengajak generasi muda untuk terlibat dalam kerja bakti, kita tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga mewariskan nilai-nilai kebersamaan, solidaritas, dan kepedulian sosial kepada anak cucu . Kepala UPT TPA Batulayang menegaskan bahwa gotong royong adalah warisan leluhur yang mencerminkan kebersamaan dalam masyarakat .

Masjid At-Taqwa
Jl. Lintas Lampung Barat
Luas Area300 m2
Luas Bangunan120 m2
Status LokasiWakaf
Tahun Berdiri1990
  • Teks berjalan dikelola melalui Tampilan > Sesuaikan > WP Masjid: Pengaturan > Pengaturan Layout